Senin, 03 Januari 2011

Kakus



Cerpen Idwar Anwar

Dan semuanya menjadi aneh. Ada yang tak kumengerti saat tertimbun di dalamnya. Bau yang menggerogoti lubang hidungku laksana kalajengking yang menyengat tubuh. Tapi memang tak ada lebih yang istimewa, kecuali hanya bau yang terus menerjang tanpa pernah mau memberi ampun.
Hingga….
Suatu hari aku tertegun di depannya bersama 5 warga lainnya yang telah ada sebelum aku datang. Saat itu menjelang siang. Ada yang tiba-tiba kembali mengurai sebuah kenangan yang tersimpan di dalamnya. Sadis! Kengerian seketika begitu garang menerjang kesadaranku. Dinding-dinding yang ditumbuhi lumut dan langit-langitnya yang dipenuhi jaring-jaring laba-laba yang menggelayut tak menentu, semakin mempertegas semuanya.
Ada yang diam-diam hinggap, lalu pergi. Ada yang selalu bergegas menerobos kesunyiannya. Di antara pepohonan dengan dedaunan yang tumbuh begitu rimbun. Di antara kebisuan malam yang membutakan. Ada yang tak kumengerti tentangnya. Tentang keberadaannya yang akhir-akhir ini kerap merisaukan warga desa.
 Siang itu, kembali sepotong mayat terbujur kaku di dalamnya. Sebuah kakus tiba-tiba kembali menjelma menjadi ribuan tanya. Selalu saja ada yang mengerjap, lalu pergi tanpa pernah mau pamit atau memberi kabar tentang sebuah kepergian yang abadi. Di dalamnya, ada yang tersimpan melalui duka yang menggelayut dilingkupi ribuan putaran laba-laba yang menggantung begitu duka.
Sebuah ketiadaan telah memberikan keniscayaan. Pada kebisuan yang merayap lalu terbang, ada yang tiba-tiba menyeruak kemudian lenyap. Di antara  keterpakuan warga dengan tanda tanya besar yang menggelayut di kepala, ada yang diam-diam menjalari kesadaran mereka.
 
Þ

Beberapa warga yang berkerumun di depan kakus satu-satunya di kampung Beru ini saling berbisik. Sesekali mereka meludah sembari menggeleng-gelengkan kepala lalu mengangkat bahu dengan mimik wajah kecut. Perempuan yang datang dan melihat mayat yang masih tak seorang pun yang berani menyentuhnya itu, menjerit dan membuang muka. Anak-anak yang ingin pula bergabung menyaksikan tubuh yang bersimbah darah, yang sebagian telah mengering itu, terpaksa harus mengurungkan niat. Beberapa orang dewasa menggiring mereka untuk menjauh dari  tempat tersebut.  
Aku dan beberapa warga masih berdiri. Tak seorang pun yang memiliki keberanian untuk memegang mayat itu, terlebih untuk mengangkatnya. Mayat  tersebut sepertinya korban pembunuhan. Di tubuhnya terdapat dua lubang yang sepertinya bekas tusukan senjata tajam. Wajahnya tak dapat dikenali lagi karena darah yang menutupinya. Baju kaos putih bergambar Donal Bebek yang dipakainya, kini berubah merah oleh darah yang keluar dari dua lubang di tubuhnya.
Orang yang berkerumun di sekitar kakus pun semakin banyak. Suara  kasak-kusuk masih terdengar. Ada yang menyarankan mayat tersebut dibawa ke kantor desa. Ada pula yang menginginkan dibawa ke mesjid, lalu disembahyangkan. Ada pula yang mengusulkan untuk memanggil polisi, “Biar mereka saja yang mengurusnya. Jadi posisi mayat tidak sampai terganggu untuk membantu penyelidikan polisi menemukan sebab dan pelaku pembunuhan itu,”  ucap seorang warga. “Ya, betul. Nanti, bisa-bisa kita yang jadi tersangka. Biasanya ‘kan seperti itu,” timpal yang lain.
Akhirnya, hampir semua yang berdiri di tempat itu sepakat untuk memanggil polisi. Meski demikian, tak satu pun yang meninggalkan tempat tersebut. Semuanya seperti terpaku menyaksikan mayat itu. beberapa saat kemudian muncul Pak Desa bersama tiga orang hansip. Keduanya menyeruak di antara kerumunan warga yang masih terpaku di tempatnya. Setelah menyaksikan kondisi korban, Pak Desa memerintahkan seorang hansip untuk segera memanggil polisi.
“Mengapa tak ada yang memanggil polisi?”
Tak ada yang menjawab. Semuanya tiba-tiba diam. Suara-suara yang saling berbisik, seketika tak terdengar. Mulut mereka seolah terkunci. Pak Desa masih berdiri menanti jawaban. Tapi tak ada yang bersuara.
“Sudah. Sudah. Semuanya menyingkir dari tempat ini, biar polisi tidak kesulitan menemukan bukti-bukti! Ayo cepat!” Dua orang hansip, bersama Pak Desa dan dua warga lainnya yang baru datang, berusaha menggiring warga yang masih berdiri terpaku untuk menjauh dari lokasi mayat tersebut.
Sesaat kemudian, sebuah mobil polisi berhenti di antara kerumunan warga. Beberapa polisi turun dan langsung menuju ke tempat mayat ditemukan. Beberapa di antaranya membentangkan police line untuk mengisolasi tempat kejadian. Di dalam kakus yang pintunya telah terbuka lebar, sesosok tubuh terlentang dengan tubuh bersandar di dinding kakus yang dipenuhi lumut. Kepalanya menjuntai.
Warga yang berkerumun semakin banyak. Suara-suara yang keluar dari mulut mereka masih terdengar seperti suara kawanan tawon.  Beberapa wanita yang ketakutan bergegas meninggalkan tempat dengan membawa anak-anak mereka, agar tak melihat kejadian yang mengerikan itu.

Þ

Saat matahari tepat berdiri di ubun-ubun, beberapa warga mulai meninggalkan tempatnya. Lokasi mayat ditemukan perlahan sepi. Mayat yang berada di dalam kakus telah diangkat oleh polisi dan dibawa ke rumah sakit, setelah  sebelumnya menyelidiki beberapa tempat yang dianggap dapat memberikan petunjuk untuk menyingkap kasus pembunuhan tersebut. Beberapa warga pun ditanyai bahkan ada beberapa di antara mereka yang dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Suasana kembali hening. Aku masih berdiri di depan kakus yang telah menyimpan tanda tanya besar di kepala. Kejadian seperti itu sebelumnya telah terjadi tiga kali. Sesosok mayat juga pernah terbujur di dalam kakus tersebut. Saat itu warga sangat ketakutan untuk membuang hajat di kakus tersebut. Mereka lebih senang membuang hajat mereka di pematang-pematang sawah atau di kebun. Meski pada akhirnya, mereka pun harus menggunakan kembali kakus tersebut. Namun, sampai saat ini pelakunya belum juga ditemukan. Aku kembali pesimis, pelaku pembunuhan itu akan dapat ditangkap.
Kakus yang merupakan bagian dari bangunan MCK yang dibangun di tengah-tengah desa itu, memang satu-satunya tempat yang biasa digunakan warga untuk membuang hajat. Bangunan MCK tersebut tidaklah terlalu luas. Satu kakus dan sebuah kolam besar, tempat orang-orang mandi dan mencuci.
Karena peristiwa itu, MCK tersebut sangat jarang lagi dipakai warga. Namun, setelah beberapa lama kurang terpakai, akhirnya MCK tersebut kembali ramai. Orang-orang seperti melupakan peristiwa mengerikan yang pernah terjadi. Warga desa pun kembali menggunakan MCK yang dibangun oleh mereka dengan menggunakan dana bantuan pemerintah, yang kabarnya sebesar 30 juta rupiah, untuk tempat mandi, mencuci dan membuang hajat tersebut.
Namun, sejak ditemukannya kembali mayat yang terbujur di dalam kakus, warga kembali resah. Mereka kembali merasa takut untuk pergi mandi, mencuci terlebih untuk membuang hajat. Sejak kejadian itu, MCK  kembali sepi, apalagi jika malam datang. Orang –orang hanya berani mengambil air sebanyak-banyaknya di pagi hari sampai menjelang sore. Dan untuk buang hajat, kebiasaan warga sebelum MCK dibuat, kembali dilakukan. Mereka lebih senang membuang hajat di kebun atau di pematang-pematang sawah, itupun dengan perasaan was-was.
Beberapa hari berselang, warga desa pun semakin dibuat resah dengan berhembusnya cerita-cerita mengenai mayat yang ditemukan tersebut. Cerita  itu berkembang terus dan menjadi kepercayaan warga. Ada cerita tentang adanya mahluk halus yang sangat jahat yang menghuni kakus. Menurut cerita yang berhembus, makhluk itu sengaja membawa mayat-mayat tersebut untuk dihisap darahnya. Ada juga cerita bahwa beberapa warga pernah mendengar suara-suara jeritan yang berasal dari kakus itu. Bahkan masih banyak lagi cerita yang terus berkembang dan mengisi perbincangan sehari-hari masyarakat.
Akhirnya kakus tersebut perlahan-lahan menjelma menjadi tempat yang menakutkan. Warga semakin enggan untuk pergi ke sana. Untuk mengambil air pun, mereka harus bersama-sama. Paling  sedikit empat orang, baru mereka berani pergi mengambil air. Jika malam turun, suasana semakin menakutkan. Suara-suara binatang malam dan lolongan anjing semakin menambah keseraman. Warga yang biasanya ronda hanya empat orang, kini bertambah menjadi delapan.
Suasana desa, sejak ditemukannya mayat untuk keempat kalinya di kakus itu kian mencekam. Apalagi di malam hari. Jika pagi menjelang, sebuah cerita kembali tercipta, lalu tersebar seperti angin yang berhembus. Dan hari itu pula, di rumah-rumah, di sawah-sawah, atau di kebun-kebun, cerita baru itu terus dibicarakan.
“Aku melihatnya sedang mandi di MCK. Bajunya compang-camping dengan rambut yang acak-acakan,” kata seorang warga yang melihat mayat yang ditemukan tempo hari itu, suatu hari ketika sedang mencangkul di sawah.
“Betul kamu melihatnya?” kata yang lain.
“Betul! Bahkan aku mendengar suara-suara aneh.”
Lalu cerita itu pun terus berkembang. Dan esoknya di saat matahari kembali menampakkan cahayanya, sebuah cerita pun kembali muncul. Seorang warga datang dengan cerita barunya. Katanya semalam ia mendengar suara jeritan.  Dan setelah itu, terdengar suara tangisan bayi. “Lama sekali suara tangisan bayi itu terdengar,” katanya dengan mimik serius.
Lalu, pagi itu suasana kembali gempar. Cerita itu seperti menjadi kenyataan. Beberapa warga yang bermaksud mengambil air tanpa sengaja melihat ke pintu kakus yang sedikit terbuka dan dua buah kaki terlihat dengan jelas. Suara jeritan pun bersahutan. Pagi yang indah seketika berubah menjadi kengerian. Beberapa warga kembali berkumpul. Aku pun tak mau ketinggalan.
Setelah menerobos di celah-celah kerumunan warga, aku berhasil mendekati kakus. Dengan memberanikan diri, pintu kakus kubuka lebar. Suaranya menderit. Di lantainya, seonggok janin yang masih merah, terlentang tanpa terbungkus sehelai benang pun. Tali pusarnya belum dipotong. Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan yang terlihat. “Ia telah mati,” pikirku.
Tak lama berselang, sebuah mobil polisi tiba. Beberapa polisi langsung menuju ke arah kakus, sementara yang lainnya sibuk mengarahkan warga untuk menjauh dari lokasi. Penyelidikan pun dilakukan. Tak ada tanda-tanda yang dapat dijadikan alat untuk mengungkap kasus tersebut. Beberapa warga pun dimintai keterangan, termasuk orang yang pertama kali menyebarkan cerita tentang adanya suara bayi yang didengarnya.
Tapi semuanya sia-sia. Sama seperti kasus-kasus sebelumnya. Telah lima kali ditemukan mayat di dalam kakus. Dan semuanya terjadi hanya berselang sebulan atau lebih. Lama aku tertegun di beranda rumah. “Apa yang sebenarnya terjadi dengan desa ini?” pikiranku terus melayang. Tapi tak ada jawaban sedikit pun.

Þ

Setelah kejadian itu, ketakutan warga semakin memuncak. Hingga suatu hari diadakan pertemuan di balai desa untuk membahas beberapa peristiwa yang telah terjadi, utamanya kakus yang akhir-akhir ini menjadi tempat beberapa mayat ditemukan. Sebagian warga menganggap tempat tersebut sangat angker dan mendatangkan bencana, sehingga harus dibongkar.
“Tempat itu sangat tidak baik.” 
“Ya, mungkin saja itu benar. Tapi, sebelumnya saya minta maaf, sebab menurut saya bisa saja proses pembangunan MCK itu, ada yang salah,”  kata salah seorang warga menimpali.
“Maksud, Anda?” tanya Pak Lurah agak heran. Semua warga yang hadir pun melongo.
Udin yang mengeluarkan pernyataan itu, sejenak terdiam. “Ya. Sekali lagi saya mohon maaf. Menurut saya,  dalam proses pembangunan MCK tersebut mungkin telah terjadi tindak korupsi.”
Hampir semua yang hadir seketika terbelalak dengan mulut menganga. Hawa kutukan seketika seolah menjalari tubuh mereka. Terlebih Pak Lurah, wajahnya nampak tegang, seperti tersinggung. “Jadi Anda menuduh yang menangani pembanguan itu melakukan korupsi?” suaranya meninggi. “Balai desa ini juga dibangun dengan menggunakan anggaran yang sama dan orang yang sama. Tapi kok, mayat-mayat itu tidak berada di sini? Alasan itu mengada-ada.”
“Sekali lagi saya mohon maaf, jangan sampai ada yang tersinggung. Ini hanya perkiraan saya. Wajar kan kalau saya berpikir demikian. Apa bedanya dengan yang lain, yang berpendapat bahwa tempat MCK tersebut yang tidak baik.”
 Beberapa saat ketegangan menyelimuti. Pak Lurah dan beberapa aparatnya benar-benar merasa tersinggung. Namun, akhirnya suasana panas itu, reda. Masing-masing dapat mengendalikan diri. Hampir semua warga pun sepakat untuk membongkar MCK itu dan mencari lokasi lain.
Setelah disepakati lokasi, pendanaan dan waktu pembongkaran serta pembangunan MCK baru, warga desa pun pulang ke rumahnya masing-masing. Sebuah harapan baru seakan terbentang di hadapan mereka. Wajah-wajah mereka nampak ceria. Aku hanya terdiam.
Sesuai waktu yang ditentukan, beberapa warga mulai membongkar bangunan MCK. Aku dan dua warga lainnya bertugas mencari bahan bangunan yang dibutuhkan di kota. Dengan dana swadaya warga, beberapa bahan bangunan yang dibutuhkan itu pun diangkut ke desa. Tidak sampai sehari bangunan itu pun rata dengan tanah. Tak satu pun bahannya yang dapat digunakan.
Kulihat wajah-wajah mereka yang bekerja begitu ceria. Tak ada lagi ketakutan yang tergurat. Mereka membongkar bangunan MCK begitu semangat. Setelah semuanya selesai, wajah mereka nampak semakin berseri. Sebuah kutukan seperti telah hilang dari lingkungan mereka.
Berkat kerja keras warga, bangunan MCK baru pun berdiri. Semuanya nampak puas. Tak ada lagi hawa kutukan yang mereka rasakan. Semuanya sirna bersama runtuhnya banguanan MCK yang lama. Dan setelah diresmikan, MCK itu pun langsung digunakan. Beberapa warga begitu cerianya mengguyurkan air di tubuhnya, sedang lainnya sibuk mencuci.

Þ

Sebulan lebih berlalu. Tak  ada lagi cerita tentang mahluk halus yang kejam atau suara-suara mengerikan yang terdengar di malam hari. Di sawah-sawah, di kebun-kebun dan di rumah-rumah. Tak ada lagi.  Semuanya sirna oleh keceriaan warga dengan adanya MCK yang mereka bangun dari hasil keringat mereka. Semuanya kembali seperti semula. Tenang. Tenteram.
Hingga….
“Ada mayat ditemukan! Ada mayat ditemukan!” Bunyi kentongan bertalu-talu. Malam masih menggelayut. Aku terbangun dengan tergesa-gesa. Kubuka pintu dan melihat beberapa warga sedang berjalan tergesa-gesa menuju Balai Desa. Aku pun bergegas bergabung bersama mereka.
“Apa yang tejadi?” tanyaku.
“Ada mayat ditemukan!”
“Di mana?”
“Di Balai Desa.”
“…???!!!”

Makassar, 27 April-14 Mei 2001

Di Atas Meja Makan



Cerpen Idwar Anwar

Semua rencana itu disusun di atas meja makan. Sepuluh orang lelaki duduk mengelilingi sebuah meja makan yang cukup besar. Di atasnya berjejer piring dengan sendok, garpu dan pisau di samping. Semuanya tertata begitu apik. Menu-menu makanan mewah yang terhidang begitu menggairahkan dan membangkitkan selera makan. Terlebih bagi  para pengemis atau gelandangan yang beberapa hari terpaksa harus menahan lapar.
Di atas meja yang terbuat dari kayu hitam dengan hiasan antik buatan luar negeri itu, terlukis sebuah pemandangan indah. Dua buah vas bunga turut menghiasinya. Semuanya nampak bersih. Tak satu pun lalat yang berani untuk hinggap di atasnya. Berniat pun, mungkin lalat-lalat sampai takut. Mereka mungkin hanya mampu mengintip melalui jendela bening.
Sepuluh orang lelaki telah bersiap menyantap makanan yang tersaji di depan mereka. Sepuluh orang lelaki dengan pakaian yang rapi. Dasi menjuntai indah dari leher hingga ke perut mereka yang rata-rata buncit. Wajah mereka berseri. Senyum mereka kadang tersungging, bahkan disertai derai tawa yang tak terkendali. Terbahak-bahak. Mereka terkadang mendehem.
Sepuluh orang lelaki itu kemudian mengambil celemek yang tersedia di atas meja, lalu meletakkan di atas paha dan juga menyelipkan di kerah baju mereka. Hampir serempak  masing-masing membalik piring, kemudian satu persatu mengambil  nasi dan beberapa hidangan lainnya. Sendok, garpu dan pisau  pun, satu demi satu mulai beraksi.
Semua rencana itu  disusun di atas meja makan. Sepuluh orang lelaki mulai menyantap makanan. Sendok-sendok  yang berisi makanan mulai memasuki mulut-mulut mereka. Gigi-gigi  mereka perlahan mengunyah menyisakan suara gemeletakan. Dentingan piring, sendok, garpu dan pisau yang saling beradu terus berbunyi. Sebuah  orkestra tanpa partitur sedang dimainkan.
Mereka nampak begitu bersemangat melibas santapan yang terhidang. Chicken soup,  steak, salmon steak, sukiyaki, barbeque, sop kikil, pindang bandeng, urap sayuran, souffle terung, rendang kerang, dan makanan mewah lainnya, satu demi satu raib dari tempatnya.
Di atas meja makan, semua rencana itu disusun. Sepuluh orang lelaki  begitu beringas menyobek-nyobek daging ayam atau sapi dengan gigi-gigi mereka. Keringat mulai menetes dan terkadang jatuh di atas makanan yang mereka santap. Sesekali lendir mengalir dari hidung mereka dan sebelum menetes mereka pun dengan sigap mengisapnya. Baju yang mereka kenakan pun mulai basah.
“Bagaimana dengan rencana kita?” Salah seorang mulai membuka pembicaraan. Lelaki bertubuh pendek dengan perut buncit itu mendesit, saat merobek-robek daging ayam di mulutnya. Suara-suara mendesit juga begitu jelas terdengar bergantian keluar dari mulut yang lain.
Sejenak tak ada yang menjawab. Hanya suara desit, suara gemeletakan, suara dentingan, dan suara sedotan kuah yang terdengar. Mereka masih asyik dengan kenikmatan hidangan yang sangat mengundang selera. Sesekali ada yang mendehem, bahkan terbatuk-batuk.  Semuanya  begitu khusuk menikmatinya.
“Rencana kita ada perubahan, Tom.” Salah seorang menimpali.
“Maksud kamu?” Lelaki buncit yang dipanggil Tom itu sejenak menghentikan sendok yang hampir saja amblas ke dalam mulutnya yang masih terbuka. Matanya semakin melebar. Tatapannya  menohok tajam ke wajah rekan-rekannya.
“Iya…Rencana pertama kita ada sedikit perubahan.”  Lelaki yang persis berada di hadapannya pun menimpali.
“Betul.” Hampir  bersamaan beberapa lelaki yang lain menimbangi, meski di mulut mereka masih penuh dengan makanan.
“Alasannya apa? Tolong jelaskan!” Tom kembali bersuara, setelah sendok yang berisi makanan yang tadi terhenti, telah amblas ke dalam mulutnya. “Kamu, Bram, tolong jelaskan!” lanjutnya sembari menatap ke arah orang yang berada di sampingnya.
Lelaki tinggi kurus itu sedikit tersedak. Beberapa kali ia mendehem, lalu meraih segelas air dan meneguknya.  “Begini.... Kita tak dapat lagi menggunakan strategi yang dipakai di Aceh atau di Timor-Timur. Ada beberapa hal yang perlu kita ubah. Kita harus bergerak seolah-olah peristiwa yang nanti terjadi, tidak jelas motif politiknya.”
Ia kembali menghirup air di gelas yang tinggal setengah. “Dalam membuat peta konflik, kita tak perlu terlalu tergesa-gesa. Masih banyak target daerah yang potensial dalam rencana kita. Bagaimana kawan-kawan.” Pandangannya menghambur ke arah lelaki-lelaki yang masih saja terlena dengan makanan lezat di hadapannya.
“Betul. Betul. Kita memang tidak boleh gegabah. Sebab resiko yang kita tanggung sangat besar,” timpal yang lainnya. Suara dentingan sendok, garpu dan pisau yang beradu dengan piring menyela di antara percakapan mereka.
Sejenak Tom terdiam. “Jadi menurut kalian, cara apa yang seharusnya kita lakukan?”
“Begini…. Dalam teori konflik, kita sudah mengetahui, ada beberapa hal yang sangat potensial menimbulkan konflik di masyarakat, seperti suku atau agama. Dan untuk sementara di negara ini, potensi itu masih besar kemungkinan untuk digarap,”  ujar Herman. Diraihnya segelas air, lalu meneguknya dengan cepat.
“Betul kata Herman,” celetuk Sandi. “Potensi konflik di beberapa daerah masih besar kemungkinan terjadi dengan memanfaatkan realitas tersebut, terlebih lagi di wilayah timur.”
“Jadi menurut kalian apa yang telah kita lakukan di Ambon, di Poso atau di Sampit itu, berhasil?”
“Betul sekali. Sangat berhasil,”  sahut  mereka hampir bersamaan.
“Mengenai pengeboman yang dilakukan selama ini, menurut kalian bagaimana?” Tom berdiri dan menyambar paha ayam di depannya.
“Begini,” diraihnya piring yang berisi salmon steak, Sandi kembali menimpali, ”Upaya itu bisa dikatakan gagal. Manajemen issu yang dilakukan pemerintah cukup baik. Meski demikian imbasnya di masyarakat di daerah yang memang rawan konflik cukup mengena.”
“Lantas, penajaman konflik para elit politik terutama di antara partai-partai, berjalan sesuai rencana?”
“Sampai saat ini, proses itu terus berjalan, meski memang sulit, tapi kita akan jalan terus secara perlahan dan hati-hati.” Suara sendawa keluar dari mulutnya. Diambilnya  segelas air dan meneguknya. “Namun,” lanjutnya, “Beberapa orang telah kita tempatkan di pos-pos yang cukup strategis untuk terus melakukan gerakan.” 
Tom manggut-manggut. “Bagus. Kalau begitu rencana kita akan semakin berjalan mulus.” Sambil tersenyum, pandangannya menebar dan hinggap di wajah rekan-rekannya yang juga melukiskan guratan senyum.
“Ayo, teruskan! Kita nikmati semua hidangan ini.”
Semua rencana itu disusun di atas meja makan.  Sepuluh orang lelaki itu kembali hanyut dalam kenikmatan masing-masing. Hidangan yang menghiasi meja makan perlahan-lahan amblas ke dalam perut mereka. Chicken soup,  steak, salmon steak, sukiyaki, barbeque, sop kikil, pindang bandeng, urap sayuran, souffle terung, rendang kerang, dan masih banyak lagi menu mewah yang tersedia, perlahan mengalami kepunahan.
Sesekali dari mulut-mulut mereka mengeluarkan suara sendawa yang begitu nyaring. Perut mereka semakin membuncit. Terkadang mereka menarik nafas panjang untuk kembali memberikan ruang  di dalam perut masing-masing.
Di atas meja makan, di mana semua rencana itu disusun, piring-piring  dan semua hidangan yang tertata apik, mulai berantakan. Tulang-tulang  ikan berserakan di mana-mana.  Suara-suara desit, gemeletakan gigi yang beradu dengan tulang ayam atau sapi,  dan sedotan kepala ikan serta sumsum tulang ayam atau sapi masih terdengar nyaring.
Mereka semakin asyik dengan kenikmatan yang terhampar di atas meja. Dan mata mereka terus menatap jalang pada setiap hidangan. Dengan gesit mereka terus menambah makanan di atas piring  masing-masing yang masih berisi. Dan gigi-gigi mereka terus bekerja. Suara gemeletak terus terdengar.  Kadang kala di antara mereka ada yang mendehem, bahkan terbatuk-batuk. Terkadang pula suara batuk tersebut menggelegar karena dahak yang mengental, lalu mereka menelannya. Suara  sendawa pun menyelinap di antara suara-suara itu.
“Lantas, bagaimana dengan target politik kita.”  Tom kembali bersuara.
“Sesuai rencana, kita akan perlahan-lahan bergerak dan mengambil-alih kekuasaan,”  ungkap Joni nampak serius, sembari mengambil tissu dan mengusap kumis lebatnya yang terkena kuah sayur dan dihinggapi beberapa butir nasi.
“Bagus. Jadi kita dapat berjalan dengan mulus.” Wajah Tom nampak berseri. Ia tersenyum menyeringai. Dan semua lelaki yang ada di meja makan itu pun tertawa terbahak-bahak. Tanpa mereka sadari beberapa butir nasi yang tersisa di mulut mereka, menyembur ke luar. 
“Tapi ingat kawan-kawan, kita harus tetap berhati-hati. Jangan sampai rencana kita ini tercium. Sedikit pun tak boleh. Kita harus menjaganya baik-baik. Ingat sekali lagi resikonya sangat besar. Itu juga  harapan para  financial support  kita di luar negeri. Semua rencana harus tersusun dengan baik dan rapi,”  Tom mengingatkan.
“Itu pasti, kita memang harus bekerja secara profesional. Tak boleh ada yang luput dari pemantauan kita. Semuanya  harus terekam, sehingga kita dapat menentukan langkah-langkah selanjutnya,”  balas Beni.
“Betul. Betul,” ucap mereka serentak. Dan suara tertawa terbahak-bahak kembali menggema dalam ruangan yang dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan pelukis luar negeri. Di sudut-sudut ruangan dan di dalam lemari-lemari hiasan, terpajang indah keramik-keramik kuno dan hiasan-hiasan buatan luar negeri.
“Ayo teruskan! Nikmati hidangan ini sepuasnya. Semua  demi kesuksesan kita.” Tom kembali mempersilahkan.
Semua rencana itu disusun di atas meja makan. Sepuluh orang lelaki itu pun kembali khusuk dengan kenikmatan-kenikmatan yang mereka rasakan. Pembantaian   kembali terjadi.  
Di dalam ruang yang mewah itu dan di antara para lelaki yang nampak beringas menghabiskan hidangan yang tersedia di atas meja, seorang perempuan tua berdiri di sudut ruangan. Ia hanya mematung menyaksikan para lelaki itu makan. 
Ditariknya  nafas panjang. Tugasnya hampir berakhir. Tinggal menyiapkan pencuci mulut. Puding, tiramisu, green apple, cocktail dan pisang telah tersedia di sampingnya. Ia hanya menunggu sepuluh orang lelaki itu menyelesaikan santapannya, lalu dengan bergegas ia akan membawa semuanya dan meletakkannya di atas meja. Selesai.
Wanita tua itu, masih berdiri mematung menunggu perintah. Ia tak perduli apa yang mereka bicarakan. Sesekali pandangannya menghambur ke atas meja yang kini berantakan. Dilihatnya  lelaki pendek dengan perut yang semakin buncit itu terus saja menghisap kepala ikan yang berada di piringnya. Beberapa lelaki lain pun melakukan hal yang sama. Hingga beberapa kepala ikan telah menjadi korban. Semuanya hancur. Otak dan matanya telah amblas ke dalam perut mereka. 
Beberapa di antaranya kemudian mengambil tulang ayam dan menggigitnya dengan keras. Suara gemeletak terdengar nyaring. Dan setelah itu, suara sedotan pun terdengar, mirip suara pengeboran minyak atau suara alat penyedot air di pertambangan-pertambangan.
“Kepala ikan dan sumsum tulang ayam ini begitu nikmat,” terdengar Bram, menggumam dengan mulut tersumpal tulang ayam yang sementara disedotnya. Suara desit terdengar nyaring.
“Benar. Semuanya begitu nikmat,” celetuk yang lain.
Setelah semuanya habis, mereka pun mengambil tulang sapi yang telah habis isi dan kuahnya. Diambilnya sendok, lalu perlahan dimasukkannya ke dalam lubang tulang tersebut dan mencungkil sumsumnya ke luar. Mereka benar-benar sangat profesional melakukannya. Dengan begitu lahap semuanya amblas ke dalam perut mereka.
“Okhh…” Suara sendawa hampir bersamaan keluar dari mulut mereka.
Satu demi satu celemek yang melapisi paha dan yang terselip di kerah baju mereka dilepaskan. Melihat para lelaki itu telah selesai, perempuan tua yang sedari tadi hanya berdiri mengawasi mereka, bergegas melangkah membawa puding, tiramisu, green apple, cocktail  dan pisang yang sedari tadi disiapkannya.
“Akhh…. Ada pencuci mulutnya. Ini di luar negeri disebut dessert. Ayo silahkan dihabiskan,” Tom kembali mempersilahkan kawan-kawannya untuk menyantap makanan pencuci mulut yang baru saja tersedia. Sambil mengusap-usap perut, mereka mengambil puding, tiramisu, green apple dan cocktail yang telah tersedia di atas meja dan kembali melahapnya hingga habis.
“Ingat! Okrrrrhh…. Rencana kita tak boleh gagal dan harus berjalan mulus. Lakukan kembali seperti di Ambon, di Poso  atau di Sampit. Apalagi jika kondisi negara sedang kacau, kita bisa kembali  berjaya. Saya kira kawan-kawan yang menangani persoalan itu bisa bekerja dengan baik,” ujar Tom sebelum mereka meninggalkan meja makan.
Hampir bersamaan, sepuluh orang lelaki itu beranjak meninggalkan meja makan yang kini lebih mirip ladang pembantaian. Tulang-tulang ikan, tulang-tulang ayam yang sudah remuk dan tulang-tulang sapi berhamburan. Taplak meja merah dengan hiasan kembang-kembang  itu pun terlihat seperti darah yang mengalir. Kulit-kulit pisang dan tissu tak ketinggalan menghiasi keberingasan yang terjadi di atas meja makan, di mana semua  rencana itu disusun. Sepuluh orang lelaki itu menyusun rencana di atas meja makan. Hanya bekas-bekas pembantai mereka yang tersisa.
 
Makassar,  1 Muharram 1422 H

Tak Ada Ramadhan untuk Kita



Cerpen Idwar Anwar

Pukul 3 dini hari, 1 Ramadhan, suara alarm dari hand phoneku berbunyi nyaring. Bahkan terasa lebih nyaring dari hari-hari sebelumnya, memberontak dan seolah ingin menghancurkan gendang telingaku. Dengan sisa-sisa tenaga yang berhasil kukumpulkan, susah payah aku bangkit dari pembaringan. Tubuhku masih letai, sebab sudah beberapa hari aku terbaring sakit. Entah aku sakit apa. Yang pasti, pikirankulah yang paling berperan penting dalam membuat tubuhku keropos dan benar-benar tak berdaya.

Sesekali kuusap wajahku yang pasti terlihat sangat berantakan. Air mataku yang mengalir begitu banyak menjelang tidur semalam, masih terasa di permukaan pipiku, mengering membentuk kumpulan serbuk bersama tahi mataku. Dan di sudut bibirku, guratan air liur yang mengering masih membekas jelas. Mungkin semalaman mulutku menganga terlalu lama.

Pikiranku masih kosong. Aku tak tahu, apakah hari pertama puasa ini aku bisa melaksanakannya dengan baik. Dengan tubuh yang masih lemah dan pikiran yang teramat kalut, aku takut tak mampu menjalankan kewajibanku dengan baik. Meski aku bukan termasuk muslim yang baik, namun sungguh, dalam hatiku ada cahaya yang ingin kujadikan pedoman dalam hidupku. Walau cahaya itu masih redup, tapi kuyakin suatu saat nanti, cahaya itu akan menjadi penerang dalam hidupku.

Tapi malam ini, aku sungguh tak berdaya. Kerontang tubuhku ternyata terkalahkan oleh gersangnya hatiku. Seperti tak ada kehidupan di sana. Sekuat apapun aku menelisik, mengais-ngais, akan tetapi tetap saja sulit kutemukan semangat kehidupan. Seluruhnya nampak gersang. Tak ada semangat. Semuanya hanya berjalan seperti rutinitas hidup sebagai manusia yang bernafas, makan, minum atau tidur. Kendati semua itu juga terasa hambar.

Angin menjelang subuh terasa kaku, menyerudukkan gigil di tubuhku. Di tepi ranjang, aku masih terduduk kaku. Tatapanku membentur dinding kamar bercat biru bergaris kuning yang mulai banyak terkelupas. Sesekali sorot mataku menjelajah pada tumpukan skripsi kusam, koran-koran tua, dan buku-buku yang tak teratur dan berdebu. Tapi tetap kosong. Kutemukan tatapanku tak bermakna.

”Ah, malam ramadhan yang payah.” Pedih dan berdarah. Kata-kata yang melintas di batinku itu terasa menyayat membuahkan luka yang teramat perih.

Ya, malam ramadhan kali ini bagiku memang terasa payah. Hambar, seperti tanpa makna. Malam yang seharusnya menjadi malam yang indah untuk memulai ramadhan kali ini terasa begitu tandus. Tak ada keceriaan seperti ramadhan tahun lalu. Malam yang seharusnya menjadi malam terakhir sebelum kami memasuki jenjang pernikahan, kini hanya menjadi malam yang tak punya arti lagi. Benar-benar gersang.

Aku dihantui kegamangan. Sebuah ketakutan yang teramat sangat akan kehilangan seseorang yang sangat kucintai datang menyelubungi dengan garangnya dan menjadi tudung pikiran dan batinku. Sebuah ketakutan akan kehilangan seorang perempuan dengan ketulusan cinta yang mengalir deras dalam jiwanya yang telah kucampakkan dengan tanganku sendiri, dengan lidahku sendiri, dengan keberingasan yang aku sendiri tak pernah membayangkannya.

Ah, aku tak tahu harus memulai dari mana ramadhan kali ini. Aku benar-benar tersiksa oleh perbuatanku sendiri. Cinta, ya cinta yang tulus itu telah kusia-siakan begitu saja. Kuterlantarkan dalam dingin dan panas yang membakar. Aku tak pernah hadir sebagai penghangat, peneduh terlebih lagi sebagai pelindung bagi batin dan tubuhnya. Aku hanya mampu menjelma menjadi malapetaka bagi cinta yang tulus itu. Aku hanya hadir bagai harimau kelaparan yang siapa menghabisi mangsanya.

Ya, menghabisi adalah kata yang tepat bagiku, bagi lelaki yang tak tahu malu, tak tahu diuntung. Lelaki dengan keegoisannya yang maha tak terbendung. Lelaki yang hanya tahu menghisap cinta yang teramat tulus itu hingga mengering dan tak pernah mau peduli, apa cinta itu akan menderita, kering dan merana.

Dan ketika cinta itu meninggalkanku, aku pun terperangah. Aku kaku bagai patung-patung purba. Aku terperosok ke dalam jurang yang teramat dalam dan gelap. Aku menemukan diriku hancur berserakan di atas padang yang tandus dengan tanah-tanahnya retak. Terhimpit di sela-sela ilalang yang juga ikut meranggas.

Lalu, awal malam ramadhan ini sungguh-sungguh menjelma menjadi awal kehancuranku. Dinding-dinding kamar menjadi saksi dari sebuah proses keterpurukan jiwa dan tubuhku. Saksi akan sebuah kehancuran seorang pencinta yang tak tahu diri. Seorang pecundang sejati yang terkapar di atas bara yang membakar segenap kesadarannya.

***

”Tak ada ramadhan untuk kita.”
Aku terkapar lemas. Tubuhku lunglai. Tulang-tulangku luruh satu per satu. Kalimat itu telah membuat totalitas kemanusiaanku runtuh. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Segalanya menjelma serpihan… hancur. Waktu yang telah kami rangkai bersama, terlepas satu demi satu, terbang bersama angin. Terasa sulit kutangkap.

”Tapi bukankah kita telah sepakat ramadhan kali ini adalah ramadhan terakhir sebelum kita membangun bahtera rumah tangga? Aku ingin ramadhan kali ini adalah ramadhan terindah yang pernah kita lewati sebelum kita menyatu dalam aliran kehidupan yang benar-benar utuh dan suci.”

”Tapi semua itu hanya masa lalu. Aku tak ingin semuanya kembali terjalin seperti dulu. Aku tak ingin derita yang selama ini kupikul harus kembali kurasakan. Aku sudah tidak yakin dengan hubungan kita. Semuanya seperti berjalan tanpa cinta. Aku begitu pesimis dengan keadaan ini. Kita bisa bersatu atau tidak, aku tak lagi pernah berpikir ke arah itu lagi.”

”Tapi aku tak mampu menerima kenyataan ini. Aku hancur! Aku meradang!”

”Seandainya kau tahu betapa pedihnya hatiku tatkala membaca sms mu yang dengan sepihak memutuskan hubungan ini. Tangisku menderai tanpa mampu kubendung. Aku terkulai. Tubuhku limbung. Namun aku coba bangkit. Aku tak boleh kalah untuk mempertahankan cintaku. Tapi… sungguh aku sepertinya telah putus asa menggali perasaanku untuk dapat kembali seperti dulu, menjalin hubungan denganmu. Aku tak kuasa lagi mempertahankan hubungan ini. Dan ini adalah keputusan yang teramat sulit yang pernah kuambil dalam hidupku.”

”Aku benar-benar minta maaf. Aku tahu aku telah berbuat kesalahan yang sangat besar selama ini. Dan aku tak ingin kejadian ini adalah kejadian yang terburuk dalam hidupku. Aku tak ingin perpisahan ini akan menjadi penyesalan yang selalu datang menggerogoti sepanjang hidupku.”

“Tapi aku tak ingin hubungan ini terjalin lagi di antara kita. Aku bahkan berdoa pada Tuhan, jika kelak aku harus jatuh cinta lagi, aku harap itu bukan orang yang sama.”

Semuanya kian hancur. Aku tak menemukan lagi seberkas harapan untuk bisa kembali mendapatkan cintanya. Aku tersesat dalam belantara keterpurukan batin yang teramat parah. Tak kuasa kutemukan jalan pulang untuk kembali menimang-nimang dan membelai-belai cinta yang telah kuterlantarkan sendiri. Cinta tulus yang kulemparkan ke ujung kesadaranku dengan tanganku sendiri itu telah menjerit dalam keberingasanku. Dan aku… aku sang eksekutor tak lagi mampu berbuat apa-apa. Aku hanya mampu menatap nanar kepergiannya.

Aku meradang. Hubungan yang begitu lama ini ternyata berakhir sia-sia. Tak ada gaun pernikahan yang selama ini kami rancang dalam benak kami. Tak ada sebuah bahtera yang dipenuhi cinta, tangis dan tawa anak-anak yang merengek untuk didekap yang selama ini kami angan-angankan. Semuanya sirna oleh keegoisanku. Segalanya hancur oleh semua kekasaranku.

Kehancuran macam apa yang harus kuhadapi ini. Aku tak sanggup Tuhan. Sungguh aku tak sanggup menerima kenyataan ini. Jika aku harus bersimpuh di kakinya agar ia tak meninggalkanku, maka aku akan melakukannya dengan segala ikhlas. Aku begitu mencintainya dengan segala kebodohanku untuk mencintai.

Aku sadar, aku memang lelaki yang tak mampu memaknai cinta. Aku binatang yang tak mampu menggunakan akalku dengan baik untuk merumuskan cintanya yang begitu tulus menjadi sebentuk kasih sayang yang mampu membelainya dalam segala suasana. Logika-logikaku berantakan, bahkan aku sendiri tak memahaminya. Jiwaku gersang, akalku kerontang hingga tak mampu memaknai ketulusan cintanya.

***

Malam ramadhan yang payah. Aku yang membeku. Perjalanan ini begitu sunyi untuk kutempuh sendiri. Aku tak kuasa meramu kedirianku menjadi sebentuk harapan dan mimpi-mimpi tentang hari esok bersama perempuan lain. Aku tak kuasa membayangkan semua itu.

Membayangkan hidup dengan perempuan lain mungkin adalah mimpi buruk bagiku. Aku tak ingin sepanjang hidupku kulalui dengan mimpi-mimpi buruk. Aku tak ingin merancang masa depanku bersama perempuan lain. Aku tak sanggup. Aku hanya ingin bersama cintaku. Meski ia telah kusakiti, namun aku bersumpah untuk tidak membuatnya kembali terluka.

Aku tak ingin, tak ada cerita tentang gaun pengantin yang akan disematkan di tubuh kami saat hari bahagia itu tiba. Aku tak mau, tak ada bahtera yang akan membawa kami menuju keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Aku tak kuasa membayangkan jika semua itu tak ada. Aku tak rela jika semuanya menjadi musnah akibat kekejaman yang kurancang dengan kebodohanku dan tanganku sendiri.

Aku sadar, ini adalah kesalahan terbesar yang pernah kulakukan selama hidupku. Tapi aku tak kuasa lagi untuk meyakinkannya untuk kembali membangun cerita baru di antara kami. Dan aku teramat berantakan. Cinta yang tulus itu benar-benar telah terluka. Ia berdarah, terkapar dalam rinai air mata yang tak pernah berhenti menoreh segurat demi segurat perih di totalitas keperempuanannya.

***

”Tak ada ramadhan untuk kita.”
Kalimat itu tak pernah berhenti meraung-raung dalam jiwaku. Kutemukan diriku di awal ramadhan ini bagai seonggok daging yang tak punya roh. Makanan yang terhampar di depanku hanya menjadi hiasan mata. Tak ada keinginan untuk memasukkannya ke dalam tubuhku sebagai penguat ragaku untuk berpuasa besok.

Jiwaku benar-benar telah rapuh. Hampir seluruh semangat hidupku pergi meninggalkanku. Cinta itu. Ya, cinta tulus yang selama ini telah menjadi kekuatan terbesar yang membuatku mampu menghadapi kerasnya kehidupan telah berubah menjadi sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Segalanya telah menjadi lain. Kepergiannya membuat hidupku seperti tak bermakna lagi.

Kebodohankulah yang membuatnya harus pergi dan menjelma menjadi kepedihan. Seluruh kebahagiaan yang selama ini kurasakan memang sudah tak ada lagi. Terampas oleh keegoisanku. Aku tak mampu menjaga cinta tulus itu. Menjaganya bagai rahim yang teramat ikhlas membelai setiap janin yang didekapnya.

Dan karena itu, aku malu pada diriku. Aku malu pada Tuhan yang telah memberikan cinta tulus itu, namun tak mampu kujaga dengan baik. Aku malu karena tak mampu membalas ketulusan cinta itu dengan membuatkannya rumah dalam jiwaku. Sebuah rumah indah, sejuk dan damai yang penuh dengan harapan-harapan untuk menjalani hari-hari esok yang ceria dan penuh kebahagiaan.

***

Malam ramadhan yang kerontang. Kutelusuri setiap helainya, kutelisik dengan jemari jiwaku yang rapuh. Namun, tak kutemukan segalanya dalam puing-puing malam ramadhan yang telah berantakan. Aku kalah. Ya, aku kalah.... Aku pecundang yang tak mampu berbuat apa-apa pada cinta yang selama ini telah memberikanku segalanya.

Gigil malam hanya menyisakan ketersiksaan dan penyesalan yang berdarah-darah dalam batinku. Tak ada lagi ramadhan yang indah. Ramadhan yang dipenuhi dengan cinta yang menyejukkan segala yang ada dalam diri kami. Tak ada lagi gema azan yang mengantarkan kami dengan segala keikhlasan beriringan menuju rumah Tuhan.

Semuanya telah sirna. Bahkan dalam anganku pun segalanya telah dipaksa untuk menyingkir dan jangan pernah lagi untuk kembali. Memoriku dipaksa untuk mengosongkan semua kenangan itu. Kenangan tentang sebuah percintaan yang tulus yang telah kunodai dengan kebodohanku.

Tuhan aku tahu, aku begitu kotor dan tak layak lagi meminta pada-Mu. Tapi jika masih diberi kesempatan untuk bermohon, maka hamba mohon, jangan tutup pintu hatinya, dan hati hamba untuk dapat tetap berharap. Ya, mungkin dengan berharap hamba kembali bisa menjadi manusia….

Air mata subuh, 1 September 2008